Anwar Abugaza : Khilafah, Hizbut Tahrir dan ISIS


Diskusi panjang tentang Islam yang bertajuk Politik dan Gerakan Jihad yang terjadi di Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas, pertengahan Maret tahun 2011 silam, mengingatkan saya kembali memomi saat itu, ditengah gencarnya pembicaraan tentang ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) kelompok islam yang berupaya berjuang menegakkan Khilafah Islamiyah, saat itu pembicara yang hadir diantara ust Muhammad Basri, LC sosok yang beberapa hari terakhir ini menjadi pemberitaan terkait ISIS di Makassar, saat itu beliau mewakili Aziz Kahar yang berhalangan Hadir sebagai perwakilan DPD RI, Aswar Hasan yang mewakili kalangan akademisi, Lukman Hakim, LC Penerjemah buku Visi Politik Gerakan Jihad, dan saja sendiri Anwar Abugaza pembicara yang mewakili KAMMI Sulsel.

Ujung dari diskusi tersebut adalah kesepahaman tentang lahirnya khilafah Islamiyah sebagai ujung pangkal dari gerakan Islam yang selama ini muncul, namun menjadi pertentangan bagaimana khilafah itu terbentuk, kami ber-Empat ditambah mayoritas peserta dari aktifis Hizbut Tahrir tidak pernah bersepakat melalui jalur apakah khilafah itu nantinya terbentuk, apakah melalui jalur Politik (perjuangan melalaui partai politik), perjuangan melalui gerakan jihad bersenjata, atau melalui perjuangan ogranisasi kekhalifaan seperti hizbut Tahrir. Diskusi itu berakhir dengan membawa perbedaan pandangan masing-masing, dan itupulah yang terjadi dengan mayoritas umat islam saat ini.

Wacana tentang khilafah Islamiyah tidak bisa lepas dari keinginan umat islam untuk mengembalikan kejayaan Islam yang telah runtuh pada 3 Maret 1924 M / 27 Rejab 1342 H oleh Mustafa Kemal Atartuk. sejarah kelam umat islam ini tidak bisa lepas dari perang Yunani dan Turki tahun 1921,pasukan pimpinan Mustafa kemal saat itu mampu mengalahkan Yunani, dan memberi legalitas kekuasaan kepadanya, dan akhirnya Mustafa Kemal Atartuk melalui serangkaian peristiwa, tipu muslihat dan pengkhianat, akhirnya kerajaan Utsmaniyyah menjadi runtuh dan Khilafah Islamiyyah dibubarkan.

Keruntuhan Daulah Islamiyah bukan akhir dari perjuangan Islam, namun menjadi babak baru dalam upaya menegakkannya kembali oleh generasi baru awal abad 21, berbagai kelompok Islam terus bentuk, yang paling terkenal tentuntanya organisasi Hizbut Tahrir. Organisasi ini lahir dengan identitas partai politik berideologi Islam didirikan pada tahun 1952 di Al Quds. Didirikan oleh Taqiyyuddin An Nabhani (1905-1978) seorang Ulama, Mujtahid, hakim pengadilan (Qadi) Di Palestina dan lulusan Al Azhar. Aktivitas organisasi ini selalu muncul dengan kajian keislaman, rekrutmen kader yang rapi, dan selalu muncul dengan tagline “khilafah sebagai solusi”, organisasi ini dengan mudah menyebar di seluruh dunia termasuk Indonesia, namun ditengah perjalan waktu sejak di dirikan sampai hari Khilafah yang sudah sejak dulu perejuangkan tidak kunjung hadir, dari sinilah eksistensi Hizbut Tahrir lalu dipertanyakan.

Di Indonesia sendiri muncul gerakan-gerakan ormas islam yang berjuang dengan berbagai cara dan metode, sebut saja KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam) di Sulewesi Selatan, atau bahkan Penerapan otonomi khusus di Aceh, dan tidak bisa juga kita abaikan peranan ormas besar Islam Seperti NU, Muhammadiyah yang walau tidak tegas memperjuang Syariat Islam, namun peranannya dalam menata masyarakat juga menjadi

Komentar Anda