NIRWANA (Penerima Beasiswa BMT Insan Mandiri) : Aku dan Cita - citaku


Aku terlahir di desa yang jauh dari kota.desaku itu bersih, indah dan nyaman. Yah bisa dikatakan desa itu masih hijau bahkan sangat hijau. Waktu umurku genap tujuh tahun aku masuk ke sebuah sekolah dasar negeri. Sekolah dasar itu sangat berjasa bagiku, namanya SDN 237 Lembang. Guru kami mengajari banyak hal, termasuk bagaimana menjaga lingkungan dan kesehatan tak terkecuali cita-cita.

Asal mula aku bercita –cita menjadi polwan,karena aku lihat didesaku pada saat itu polwan sangat jarang, kalaupun ada itu bisa dihitung jari. Ketika aku duduk di kelas dua SD ini pertama kalinya guruku membahas tentang cita-cita dan beliau bertanya tentang apa cita-cita kami,jawaban kami beragam ada yang menjawab” saya ingin jadi polisi bu”, “saya ingin jadi seperti ibu “, “saya ingin jadi tentara bu” bahkan diantara teman-temanku ada yng menjawab’ saya ingin jadi presiden” aku hanya diam mendengar jawaban mereka. Aku malu mengatakan cita-citaku. Ibu yang melihat kepalaku tertunduk dalam hanya tersenyum. Ibu guru mendekatiku dan mengusap kepalaku sambil bertanya” kalau nirwa, apa cita-citanya?’ aku hanya menggeleng serentak teman-temanku tertawa aku makin menunduk.

Salah satu temanku berteriak mengejek “mana ada orang yang tidak punya cita-cita “kelas tambah riuh oleh suara mereka , aku sudah tidak bisa menahan tangis . air mataku jatuh ibu guru segera menenangkanku . ibu guru tampak marah dan menegur mereka. Teman-teman yang mencemoohku barusan diam seribu bahasa. Mereka mendekati aku yang menangis sesegukan dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan “aku minta maaf yah” aku segera membalas uluran tangan mereka dan tersenyum. Setelah itu mereka bertanya pa cita-citaku. Entah dari mana rasa percaya itu berasal dengan bangganya aku menjawab “POLWAN” mereka mengacungkan jempol dan tersenyum. Aku merasa sangaat senang mendapat dukungan dari mereka.

Setelah kejadian itu, tidak jarang dari kakak-kakak kelas meneriakiku dan menjulukiku dengan sebutan POTAS (polwan tak sampai-sampai) aku hanya diam.

Saat usiaku menginjak remaja, aku dimasukkan ke sekolah islam (pesantren) tingkat SMP yaitu pesantren Hidayahtullah Makassar. Di sekolah itulah aku mulai berpikir panjangtentang cita-cita dan mimpiku selama ini, aku mulai ragu dengan cita-citaku, kadang sih aku berpikir mana ada polwan di Indonesia yang berjilbab besat. Jangankan jilbab besar polwan yang berjilbab kecil saja tidak ada. Kalo aku mau menjadi polwan yang berjilbab berarti kelak aku harus keluar negeri dulu. Aku mulai bingung dan aku tidak mau jadi polwan di negara orang , aku hanya ingin berbakti di negaraku sendiri.

Alhamdulillah, setelah berpikir-pikir aku memutuskan untuk tidak bermimpi lagi menjadi polwan atau semacamnya. Sekarang aku memiliki cita-cita yang sangat mulia yaitu menjadi seorang pendakwah sejati (Murabbiyah) yang di ridhoi Allah SWT (amin…) aku menulis cita-citaku disetiap bukuku , dilemaari, tak terkecuali diotak dan dihatiku . lagi-lagi temanku ada yang mengejek aku terlalu berhayal aatau apalah.tapi aku tidak mau mendengarkan mereka , terserah mereka mau mengatakan apa yang jelas kehidupanku tidak menyusahkan mereka lagi pula aku hanya ingin menjadi seorang pendakwah yang bermanfaat untuk umat.

Saat ini aku sudah bertekad untuk menggenggam erat-erat dan menggapai cita-citaku, meskipun fasilitas di sekolahku saat ini belum terlalu memadai tetapi aku yakin aku bisa menggapai itu semua. YES I CAN…..

Komentar Anda